Temanku berkata, bila rasa itu cukup kamu dan Allah yang
tau, bila sayang itu cukup dihati tak perlu diungkap apalagi diumbar. Seperti
romantisme kisah Ali dan Fatimah. Yah, setan-pun tidak mengetahui rahasia
diantara mereka. Habat ya, keduanya mampu menyimpan rasa tersebut didasar hati
masing-masing insan tanpa terkecuali Allah sebagai tempat tercurah segala
kisah.
Kepadamu, yang kini nama itu melekat didalam bayangan. Aku
tahu kini, sosokmu begitu memiliki standar nilai tinggi, sosokmu memiliki nilai
lebih dari kelebihan yang dimiliki sang lain.
Bukan aku memilih, untuk jatuh kepada namamu, untuk memilih
namamu dalam rapal doaku, untuk terbayang wajahmu dalam robithah atau
menyetujui mimpiku adalah kamu, ya bukan.
Semua berjalan seperti biasa, hingga contac mata itu
terkesan bukan biasa lagi, seperti ada hal lain padahal sama saja seperti
dahulu, semua sama. Hanya aura-aura harapan yang membuatnya seperti itu.
Hmmm, kisah lucu nan berlebihan mewarnai setiap hari yang kita
lalui. Detik diammu memaksaku untuk menerka, meski aku tau kau memiliki dia
yang jauh disana, dan katanya kau-pun menjaga hati untuk yang dikasihi tetapi
hanya kepada Allah ku serahkan segala pilu hal indah ini, meski pilu dan luka
yang dirasa saat ini, cinta tumbuh bersamanya kedewasaan.
Hadirmu lukis sikap bersabar dalam setiap langkahku, tawamu
ajarkan bahagia, senyummu isyaratkan kedamaian dan kata-pun kuatkan aku.
Meski cinta hanya aku yang rasa, meski harapan hanya aku
yang punya dan meski hanya aku yang
meyebut namamu dalam sujud malam-malamku. Aku tau, cinta bukan untuk memaksakan
tetapi ia hadir dalam setiap pengajaran yang ku dapatkan.
Setiap darinya, hadir memberi arti dan maksud untuk
sesiapapun. Setiap orang memiliki arti masing-masing, memiliki cerita dan kenangan
untuk dapat dikenang. Mereka hadir dengan berjuta warna yang ada, dengan puisi
yang tersua, dengan nasihat yang membangun, ataupun dengan memberi kebahagiaan
dengan luka yang terbekas.
Kebahagiaanku, mengenalmu sebagai cambuk pemantas diriku.
Ketakutanku adalah memiliki rasa kepadamu, ketidakpantasanku memundurkan
langkahku untuk berani mengadah cinta darimu, namun terpeduli aku akan masa
depanmu, menjadikanku ikhlas untuk terlebih dahulu berbenah.
Kesempurnaanmu membuatku malu untuk bersanding dengan apa
adanya aku. Kepantasanmu dapatkan yang terbaik menjanjikan aku untuk terus
bangkit mengejar tertinggalku. Memantaskan dengan standarmu bukanlah hal mudah,
karna itu aku pernah mengaharapkan untuk engkau mau menghargainya walau
sedikit, meski itu bukan kewajibanmu, namun hatiku meminta.
Untuk rindu akan batas waktu. Tuntunlah aku dalam kasih yang
sabar, menerima walau pahit dan berusaha walau sulit. Berjuang, karena engkau
menyayanginya. Berjuang, karena engkau tahu dia pantas dapatkan yang terbaik.
Sebagaimana kini, diapun sedang terus memperbaiki diri,
sebagaimana janji Allah, wanita baik untuk laki-laki baik dan sebaliknya.
Engkau yang sedang ku harap merapal namku dalam harapmu, engkau yang sedang ku
harap menyebut namaku dalam doamu dan engkau yang ku harap terbayang akan
wajahku dalam robithohmu. Maaf, aku menyayangimu dan memilihmu untuk menjadi
bagian dari cinta yang ingin terbalas.
Cinta kepada sosok aktivis sepertimu, menjadikanku terus
berjuang, bahwa aku pantas dampingimu dalam maghribah cinta-Nya, bahwa aku bisa
menjadi pendamping dalam perjuanganmu. Wahai cinta, lekatlah kepadanya, sentuh
hatiya dengan rindu akan doa yang
tekirim untuknya.
Untukmu, semoga dipersimpangan jalan nanti, Allah pertemukan
kita dalam keadaan pantas untuk bersanding.
Untukmu, yang ku harap mengisi kekosongan disela-sela
jemariku.
Senin, 01 Juni 2015
Asrama B2-15:50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar