CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 04 Juni 2015

#NulisRandom2015 - Senin, 01 Juni 2015




Temanku berkata, bila rasa itu cukup kamu dan Allah yang tau, bila sayang itu cukup dihati tak perlu diungkap apalagi diumbar. Seperti romantisme kisah Ali dan Fatimah. Yah, setan-pun tidak mengetahui rahasia diantara mereka. Habat ya, keduanya mampu menyimpan rasa tersebut didasar hati masing-masing insan tanpa terkecuali Allah sebagai tempat tercurah segala kisah.

Kepadamu, yang kini nama itu melekat didalam bayangan. Aku tahu kini, sosokmu begitu memiliki standar nilai tinggi, sosokmu memiliki nilai lebih dari kelebihan yang dimiliki sang lain.

Bukan aku memilih, untuk jatuh kepada namamu, untuk memilih namamu dalam rapal doaku, untuk terbayang wajahmu dalam robithah atau menyetujui mimpiku adalah kamu, ya bukan.

Semua berjalan seperti biasa, hingga contac mata itu terkesan bukan biasa lagi, seperti ada hal lain padahal sama saja seperti dahulu, semua sama. Hanya aura-aura harapan yang membuatnya seperti itu.

Hmmm, kisah lucu nan berlebihan mewarnai setiap hari yang kita lalui. Detik diammu memaksaku untuk menerka, meski aku tau kau memiliki dia yang jauh disana, dan katanya kau-pun menjaga hati untuk yang dikasihi tetapi hanya kepada Allah ku serahkan segala pilu hal indah ini, meski pilu dan luka yang dirasa saat ini, cinta tumbuh bersamanya kedewasaan.

Hadirmu lukis sikap bersabar dalam setiap langkahku, tawamu ajarkan bahagia, senyummu isyaratkan kedamaian dan kata-pun kuatkan aku.

Meski cinta hanya aku yang rasa, meski harapan hanya aku yang punya dan meski hanya aku  yang meyebut namamu dalam sujud malam-malamku. Aku tau, cinta bukan untuk memaksakan tetapi ia hadir dalam setiap pengajaran yang ku dapatkan.

Setiap darinya, hadir memberi arti dan maksud untuk sesiapapun. Setiap orang memiliki arti masing-masing, memiliki cerita dan kenangan untuk dapat dikenang. Mereka hadir dengan berjuta warna yang ada, dengan puisi yang tersua, dengan nasihat yang membangun, ataupun dengan memberi kebahagiaan dengan luka yang terbekas.

Kebahagiaanku, mengenalmu sebagai cambuk pemantas diriku. Ketakutanku adalah memiliki rasa kepadamu, ketidakpantasanku memundurkan langkahku untuk berani mengadah cinta darimu, namun terpeduli aku akan masa depanmu, menjadikanku ikhlas untuk terlebih dahulu berbenah.

Kesempurnaanmu membuatku malu untuk bersanding dengan apa adanya aku. Kepantasanmu dapatkan yang terbaik menjanjikan aku untuk terus bangkit mengejar tertinggalku. Memantaskan dengan standarmu bukanlah hal mudah, karna itu aku pernah mengaharapkan untuk engkau mau menghargainya walau sedikit, meski itu bukan kewajibanmu, namun hatiku meminta.

Untuk rindu akan batas waktu. Tuntunlah aku dalam kasih yang sabar, menerima walau pahit dan berusaha walau sulit. Berjuang, karena engkau menyayanginya. Berjuang, karena engkau tahu dia pantas dapatkan yang terbaik.

Sebagaimana kini, diapun sedang terus memperbaiki diri, sebagaimana janji Allah, wanita baik untuk laki-laki baik dan sebaliknya. Engkau yang sedang ku harap merapal namku dalam harapmu, engkau yang sedang ku harap menyebut namaku dalam doamu dan engkau yang ku harap terbayang akan wajahku dalam robithohmu. Maaf, aku menyayangimu dan memilihmu untuk menjadi bagian dari cinta yang ingin terbalas.

Cinta kepada sosok aktivis sepertimu, menjadikanku terus berjuang, bahwa aku pantas dampingimu dalam maghribah cinta-Nya, bahwa aku bisa menjadi pendamping dalam perjuanganmu. Wahai cinta, lekatlah kepadanya, sentuh hatiya dengan rindu  akan doa yang tekirim untuknya.
Untukmu, semoga dipersimpangan jalan nanti, Allah pertemukan kita dalam keadaan pantas untuk bersanding.

Untukmu, yang ku harap mengisi kekosongan disela-sela jemariku.
Senin, 01 Juni 2015
Asrama B2-15:50

Tidak ada komentar:

Posting Komentar