Kita tiada dituntut untuk
selalu menjadi yang terbaik namun
kita dituntut untuk selalu mencoba melakukan dengan cara terbaik.
Cinta tiada menuntut kesempurnaan, dia hanya datang disaat
sang penerima sudah siap dengan hadirnya, dia pantas menilai dengan berbagai
aspek didalamnya.
Sosoknyapun tiada meminta untuk terperfect didalamnya, namun
sosoknya memilih terbaik untuk masa depannya nanti.
***
Sukses seseorang tiada ditentukan oleh orang lain.
Kesempurnaan hidup tiada ditakdirkan oleh teman, saudara bahkan kedua orang
tuanya, namun pribadi individu dalam mendidiknya.
Aku dan mimpiku, tiada sama sperti dirimu kawan. Tujuan yang
kita rajut dengan langkah pasti yang juga tiada bertemu, memaksaku untuk
memisahkan diri dan berjalan biar seorang diri.
Aku dan cita-citaku, tiada berbeda dengan yang lainnya.
Ingin meraih bahagia diujung penantian. Bukan kesedihan dan penyesalan yang
diharapkan, aku mohon semangatilah aku, aku mohon dukunglah aku dan aku mohon
apresiasilah aku.
Aku dan hidupku, tiada kata lain selain sukses yang ingin
diraih dan surga sebagai akhirnya.
***
Berjalan dikoridor yang tak sama, berjalan dijalan yang juga
berlainan, memaksaku untuk membunuh hawa dan nafsu sesaat. Bantu aku untuk
terus sabar, untuk terus berjalan meski tertatih, untuk terus berjalan meski
luka dirasa.
Waktu yang diberikan sudah cukup mengantarkanmu kepada
jalanmu, waktu yang diberikan sudah cukup membuatku belajar banyak hal, waktu
yang diberikan sudah cukup bagiku untuk mengenal siapa kamu.
Biarlah aku hanya menjadi sesaat, biarlah aku tak menjadi
selamanya dan biarlah aku bukan menjadi mereka yang disisimu karena semua itu
sudah kamu miliki saat ini.
Izinkan aku pergi untuk menjemput mimpiku, izinkan aku pergi
mengejar citaku, izinkan aku pergi bahagia pilihanku.
Mungkin visi yang kita bangun diawal tidak menjadikanku kuat
untuk selamanya, tidak menjadikanku tangguh untuk menghadapinya, tidak
menjadikanku pribadi diriku sendiri.
Sudahlah, mungkin memang ini jalannya, mungkin memang ini
yang harus terjadi dan mungkin yang terbaik adalah ini.
***
Ku tunggu engkau dipersimpangan jalan, ku tunggu engkau
diujung jalan, ku tunggu engkau diakhir penantian.
Untuk kita dapat saling menceritakan perjalanan panjang yang
sudah kita lalui, untuk kita dapat saling berjumpa dengan pembuktian kebahagiaan
masing-masing pilihan kita.
Sabarlah sabar wahai kawanku, saat ini biarlah perasaan dan
logika kita bermain. Dalam menentukan kemana kaki kita akan melangkah, dimana
kaki kita akan berpijak dan apa yang harus kita lakukan.
Tetaplah genggam tanganku, tetaplah rangkul pundakku,
tetaplah disini bersamaku. Karena aku masih membutuhkan sahabat sepertimu.
Kamis, 05 Juni 2015
Asrama B2-19:00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar